Hallo semua, kali ini bahasannya sesi curhat aja, pada tahun 2014 saya didiagnosa Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), kalo saya tarik garis besar penjelasan dari dokter saat itu PCOS sendiri adalah suatu kelainan hormon dimana kadar hormon androgen jumlahnya lebih dominan. Gejala PCOS yang saya rasakan adalah siklus haid atau menstruasi yang tidak teratur dan jumlah darah yang keluar banyak (ibaratnya pake pembalut malam juga masih harus rajin ganti karena banyaknya darah yang keluar). Kondisi seperti itu terjadi sejak pertama kali haid atau menstruasi, mungkin sekitar tahun 2009, pada saat itu masih belum mengerti kalo sebenernya itu suatu hal yang tidak normal, akhirnya memutuskan untuk periksa ke dokter tahun 2014, dokter mengambil tindakan USG dan bisa diketahui ada banyak kantong-kantong kecil (kaya anggur) dokter langsung bilang PCOS, selanjutnya disarankan hidup sehat, diet sehat, supaya bisa normal kembali siklus haid atau menstruasinya.
Alhamdulillah, akhir tahun 2018 saya menikah, dan saat itu siklus haid saya sudah normal (sebulan sekali) tetapi karena riwayat PCOS itu, jujur saya menjadi kuatir, maindset saya saat itu adalah suatu pernikahan akan lebih indah dengan hadirnya buah hati, begitu stigma yang ada di masyarakat kita, lalu bayangan akan riwayat kelainan hormon itu seakan menjadi masalah dalam diriku.
Konsultasi dengan dokter kandungan menjadi solusi dalam permasalahan ini, menjadi harapan baru, selama masih teratur siklus menstruasinya tidaklah masalah untuk mempunyai buah hati dibarengi dengan usaha dari aku dan suamiku. Pola pikir harus mempunyai buah hati berangsur-angsur berubah menjadi bagaimana usaha kita menjadi istri yang baik, bukankah istri nabi Aisyah r.a saja tidak dikaruniai buah hati tetapi tetepa menjadi istri sholehah, bahkan dijamin masuk surga, bahkan sebelum tugas menjadi ibu, alloh perintahkan menjadi istri solehah dulu, soal buah hati nanti tinggal alloh ingin memberikan kepada kita atau tidak, pikira-pikiran positif itu selalu aku tumbuhkan selagi mempersiapkan diri menjadi ibu nantinya.
Merayu dan memohon kepada alloh setiap hari untuk sebuah keikhlasan, kesabaran, dan hadirnya buah hati akhirnya membuahkan hasil, selang 4 bulan setelah aku menikah, dititipkannya kepadaku dan suami calon buah hati kami, betapa baiknya alloh pada kami, bahkan aku sempat mengira tidak bisa mempunyai buah hati, begitu sempitnya pemikiranku saat itu, padahal alloh hanya mengujiku 4 bulan saja, bayangkan ketika alloh menguji sarah dengan begitu lamanya tidak dikaruniai buah hati, bahkan keadaan itu semakin menambah keimanan sarah. Nuha, begitu nama yang akan diberikan ketika calon buah hati kami lahir.

Komentar
Posting Komentar